Tips IELTS




Oleh:  Anggun Gunawan (Awardee BPI Reguler LN LPDP 2017 tujuan MA in Publishing Media Oxford Brookes University UK) 

 

Aku tak tahu kenapa ada bisikan kuat yang mengajakku untuk datang siang tadi ke UGM Expo untuk menghadiri Mini Workshop Tips dan Triks IELTS yang diselenggarakan oleh P2EB FEB UGM. Informasi tentang mini workshop ini aku dapatkan lewat sms yang dikirimkan oleh official number P2EB UGM, lembaga pelatihan bahasa dan pajak yang menjadi favoritku untuk mengambil tes TOEFL ITP.

Formalnya acara ini adalah soft launching sekaligus publikasi program baru yang mau dibuka oleh P2EB FEB UGM, PELATIHAN IELTS. Tapi dengan sangat cantik dan juga dengan menghadirkan 2 pembicara yang cantik, mini workshop ini begitu membuatku antusias. Apalagi karena sering daftar ujian TOEFL, wajahku sudah hafal oleh Staf P2EB yang sering kutemui di lantai 2 Pertamina Tower yang berada di kompleks kampus FEB UGM.

Pembicara pertama adalah Ms. Karlina Denistia, alumni Universitas Sanata Dharma yang tahun depan akan melanjutkan kuliah S3 Linguistik di Tubingen University Jerman. Pembicara kedua adalah Ibu Siska Lidya, pengajar bahasa Inggris di sekolah vokasi UGM. Beliau berdua adalah tutor yang sudah dicertified oleh IALF.




Di 10 menit pertama, peserta yang datang cuma aku dan seorang gadis berkulit putih yang setelah kenalan selepas acara ku tahu namanya adalah mbak Agustina Sinaga, fresh graduate Sastra Inggris UGM. Si mbak satu ini ngebet banget untuk kuliah di Inggris dan sudah punya IELTS simulation 6,5. Tapi targetnya di atas 7. Setelah ku sarankan Ms. Karlina untuk menghubungi announcer di sekretariat panitia UGM Expo, akhirnya kursi yang disediakan penuh di pertengahan acara.

Kebanyakan ya prolog nya??? he2.. he2..

Baiklah, sekarang waktunya untuk berbagi apa saja tips yang saya dapatkan selama mini workshop berlangsung. Yang pertama kali harus dipahami adalah IELTS ini adalah Brilish punya. Sehingga agar kita familiar dengan tes bahasa Inggris tipe ini maka mulai sekarang sering-seringlah mendengarkan radio BBC dan baca website BBC atau Guardian. Kalau teman-teman di kos atau di rumah berlangganan TV berbayar, maka BBC TV bisa jadi pilihan yang pas untuk memfamiliarkan diri dengan aksen British yang sebenarnya lebih seksi dan vocalnya lebih bulet dibandingkan American aksen.

Kalau menurut Ms. Karlina, IELTS itu lebih humanis dibandingkan TOEFL IBT yang memaksa pesertanya bicara dengan mesin. Kesuksesan dalam TOEFL IBT sangat ditentukan oleh kecerdasan kita membaca instruksi di komputer. Nah, kalau di IELTS terutama pas speaking kita punya kesempatan untuk ketemu dan akan diuji sama Native Speaker. Konon kalau di Jogja ada 2 bule cewek yang sering menguji test taker IELTS.

Untuk yang mau mengambil IELTS sangat disarankan sudah memiliki nilai TOEFL 470. Kalau aku pribadi lebih merekomendasikan teman-teman untuk mendapatkan nilai TOEFL ITP minimal 500 dulu sebelum move on mempelari IELTS. Karena memang IELTS ini sangat membutuhkan pemahaman dan jam terbang belajar bahasa Inggris. Terutama soal kelihaian menjawab pertanyaan yang tidak hanya memilih A B C D, tetapi kita berhadapan dengan sekian macam model soal. Dan yang sangat challenging itu adalah di writing dan speaking. Karena 2 bagian ini tidak diujikan di TOEFL ITP yang lebih familiar bagi orang Indonesia.




Untuk mempersiapkan Listening sebagaimana sudah saya mention di atas bisa dengan rutinitas mendengarkan radio BBC. Nah, tips kedua yang penting dalam Listening ini adalah kecermatan membaca instruksi soal. Misalnya teman-teman diminta untuk menulis kata, maka tulislah kata. Kalau teman-teman diminta menulis angka, maka tulisan angka. satu lagi yang penting adalah perhatikan betul berapa kata yang minta ditulis. Di instruksi kadang diminta cuma 1 kata, 2 kata atau disebutkan tiga boleh lebih dari 3 kata. Tak ada triks khusus untuk listening ini kecuali teman2 berlatih dengan keras mendengarkan soal-soal Listening IELTS.

Untuk Reading yang merupakan sesi ke 2 di IELTS tes, teman-teman harus punya kemampuan membaca cepat. Dan yang paling penting adalah langsung menuju ke soal untuk kemudian baru mencari jawaban di teks. Hal ini akan sangat membantu teman-teman untuk menghemat waktu yang hanya diberikan 60 menit oleh penyelenggara tes untuk menjawab 40 soal. Dalam Reading ini ada beberapa Tipe Soal: Mencocokan paragraf dengan topik opsi yang tersedia, pilihan Yes, No dan Not Given, mengisi titik-titik dan beberapa ada mengisi titik-titik pada gambar serta pertanyaan dengan jawaban True, False dan Not Given. Di sini dibutuhkan kecepatan dan kecermatan mata untuk menemukan paragraf yang diinginkan oleh pertanyaan. Terkhusus untuk jawaban Yes, No, Not Given, ada tips untuk membedakan Not Given dan No. Not Given diperuntukkan bagi jawaban yang memang tidak disebutkan dan tidak ditemukan di teks. Sementara jawaban No khusus untuk statement yang berseberangan dengan apa yang tertulis di teks.

Sesi ke-3 di IELTS adalah writing. Inilah adalah sesi yang cukup menguras tenaga dan menuntut kita untuk berpikir cepat untuk bisa menerjemahkan Diagram, Tabel, Pie Chart ke dalam 150 kata. dalam 20 menit. Untuk Task 1 di sesi Writing ini, teman-teman HANYA DIPERBOLEHKAN MENULISKAN PARAGRAF SESUAI DENGAN DATA YANG TERTERA DI TABEL/DIAGRAM/CHART. Tidak boleh sedikitpun dicampur dengan opini pribadi teman-teman meskipun penambahan opini ini disampaikan dengan rasional dan logis. Jadi untuk Task 1 ini teman-teman hanya bermain dalam menuangkan data ke dalam kalimat demi kalimat. Paragrafnya bisa dimulai dengan paraphrase keterangan yang diberikan dalam keterangan chart, gambar, tabel atau diagram dan kemudian dilanjutkan dengan kalimat yang menunjukkan tren global dari data yang disajikan kepada teman-teman. Sedangkan untuk Task 2 sesi Writing, teman-teman diminta untuk menulis opini tentang tema atau topik tertentu dalam jangka waktu 40 menit. Untuk bagian ini teman-teman diharapkan untuk mengarang sesistematis mungkin, se-smooth mungkin dan seelaboratif mungkin dengan pengunaan kata-kata penghubung yang khas dan kalimat majemuk dengan vocab yang bervariasi.




Di sesi terakhir, teman-teman akan ngobrol dalam 3 part bersama seorang native speaker. Untuk part 1 teman-teman hanya diminta untuk menerangkan nama dan latar belakang pendidikan atau pekerjaan serta data-data pribadi. Sedapat mungkin ciptakan impresi kepada pewawancara dengan memberikan jawaban dengan kalimat-kalimat kompleks dan majemuk serta pemilihan vocab yang bervariasi. Di part 2 teman-teman akan diminta untuk memikirkan selama 1 menit tentang 1 tema tertentu, kemudian diminta menjelaskan pendapat teman2 tentang tema tersebut dalam waktu 2 menit. Di part 3, pewawancara akan mengajak teman-teman untuk mendiskusikan lebih jauh tentang persoalan yang telah teman-teman uraikan di part 2. Ini seperti orang yang sedang ngobrol. Sehingga sedapat mungkin teman-teman tidak terintimidasi dan tetap fokus memproduksi kalimat-kalimat dengan struktur majemuk dan complex sentence. Terkadang, kita akan menemukan interviewer yang cool dan jaim banget. Sebisa mungkin teman-teman bisa mengendalikan dan bisa tetap memberikan jawaban senormal mungkin  karena meskipun si interviewer nya ngak friendly teman-teman harus tetap fokus karena masih ada penilaian dan reviewer lain yang mendengarkan rekaman suara teman-teman selama sesi Speaking berlangung.

Demikian dulu dari saya. Untuk mengakhiri tulisan reportase singkat ini, saya mengucapkan banyak-banyak terima kepada Ms. Karlina yang smart dan cantik, kepada Ms. Siska yang kalem dan elegan serta mas-mas dan mbak-mbak P2EB UGM yang sudah menyelenggarakan acara Mini Workshop IELTS yang keren tadi siang.




Leave a Comment