Guru yang Menginspirasi





Oleh: Yushendra HS

Lahir di Muaralabuh 22 Januari 1982, Menyelesaikan Studi Sarjana di Sosiologi Unand dan bekerja sebagai ASN yg tengah menyelesaikan Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Unand sekaligus penerima beasiswa Kemkominfo RI.

 

Sewaktu SMA ada seorang guru yang terkenal cerewet dan banyak tidak disukai siswa. Dengan jabatan sebagai wakil bidang kesiswaan mengharuskannya untuk setiap hari beurusan dengan pelbagai kegiatan kesiswaan hingga turun tangan menyelesaikan siswa yang kedapatan melanggar aturan. Dan selain cerewet guru ini juga terkenal dengan “cubitan pinggang” yg perihnya lumayan. Ha..ha..

Sedari awal saya mengikuti proses penyambutan siswa baru, bibit kecerewetan beliau telah tampak. Anehnya, jika bagi anak-anak lain tidak suka diceramahi dan diatur harus begini begitu, saya justru anteng – anteng saja, karena kalau tidak mau diatur ya tidak usah sekolah saja, bebas mau mengapa dan kemana suka.

Satu hal yang menarik dari banyak yang guru itu “cereweti” adalah mau kemana selepas SMA. Bagi saya kala itu, saya bagaikan layangan tanpa tuan, bertali ada tapi tak ada yg mengendalikan, seperti tak punya arah dan tujuan.

Tiap kali masuk kelas, selalu saja ada ceramah, jadilah begini, untuk jadi begitu maka kalian harus begini. Kata-katanya yang kadang mengancam buat saya justru menjadi cambukan, jika diibaratkan jantung adalah lonceng, mendapat ceramah guru itu, lonceng di dada saya berdentang, seolah mengingatkan, oh ya “saatnya kamu tentukan arah dan tujuan”. Maunya apa dan seharusnya bagaimana.

Waktu berlalu, tiga tahun SMA hampir usai. Maka tibalah saatnya, saya yang telah menyusun rencana sejak kelas satu SMA telah memutuskan hendak mengapa dan mau kemana.
Guru yg cerewet itu seolah dapat menangkap signal harapan dan keinginan saya dalam merencanakan arah tujuan. Ia tak pernah luput menginformasikan peluang dan kesempatan yang sebenarnya tak pernah pula saya sampaikan secara terus terang. Mulai dari pengisian formulir masuk PTN jalur undangan sampai beasiswa pendidikan.




Saya seperti di spesialkan, ahay…padahal apalah saya hanya seorang siswa biasa yang memang agak sedikit rajin jika dibanding siswa IPS lain yg terkenal dengan streotipe tanda koma, memang kenapa anak IPS ?
Wah kalau diceritakan disini jadi panjang dan perlu ditulis dengan satu pokok bahasan yang berbeda. Nanti sajalah.

Singkat cerita, apa yang saya susun dan rencanakan dengan arahan dan bimbingan guru “cerewet” itu ternyata mendapat rintangan berupa ujian, saya gagal !!! Gagal tembus PTN melalui jalur undangan, guru saya tampak menyayangkan, itu terlihat dari caranya menyampaikan.

Tak berhenti disitu, pada penyerahan tanda kelulusan, guru itu kembali datang membawa berita yang penuh harapan, ada beasiswa gratis mengikuti seleksi masuk PTN untuk saya, selain biaya ujian gratis, nanti jika lulus PTN pun biaya kuliah pun gratis. Jaman saya itu disebut dengan beasiswa mengikuti UMPTN disingkat dengan BMU saja.

Hati saya kembali berbunga, ini kesempatan saya mewujudkan segala rencana setamat SMA.

Dan pada akhirnya, dengan segala daya dan upaya yang tersisa, saya berhasil melaluinya, saya lulus, lulus masuk PTN dipilihan pertama dan sesuai dengan rencana yang telah saya susun tak kala lonceng di dada saya berdentang bersamaan ceramah dari guru saya yang cerewet.

Terimakasih guruku, engkau bak pelita terangi gelap gulita.
Jasamu tiada tara.

*Tulisan ini saya dedikasikan untuk guru di SMUN 1 Sungai Pagu (SMAN 1 Solok Selatan) Ibu Nurhaida

 

Sumber Ilustrasi Foto: http://sman1solokselatan.sch.id/wp-content/uploads/2016/09/SMAN-1-SOL-Sel-Lama.jpg



Leave a Comment