Guru Inspiratif (2)





Oleh Yushendra HS

Lahir di Muaralabuh 22 Januari 1982, Menyelesaikan Studi Sarjana di Sosiologi Unand dan bekerja sebagai ASN yg tengah menyelesaikan Studi Magister Ilmu Komunikasi FISIP Unand sekaligus penerima beasiswa Kemkominfo RI.

 

Menjadi seorang guru bukanlah perkara mudah. Banyak suka duka yang dialami, terutama menghadapi prilaku siswa yang terkadang membuat guru terbawa perasaan. Mungkin itulah yang terjadi pada guru saya belasan tahun lalu, saat saya tengah duduk di bangku kelas tiga SMA.

Kami biasa memanggilnya Bu Jum, mengampu mata pelajaran ekonomi, perawakan beliau kecil dan bersahaja. Kami cukup segan kepada Bu Jum karena penbawaan beliau yang berwibawa dan tenang. Meski begitu dalam berkomunikasi Bu Jum adalah sosok guru yang murah senyum, lemah lembut sekaligus tegas. Jarang sekali Bu Jum memperlihatkan wajah marah atau ketidaksukaannya terhadap siswa. Sekalipun dihadapkan oleh tingkah laku siswa yang tidak menyenangkan.




Saya bersua Bu Jum di kelas satu, kemudian di kelas tiga, dimana saya memilih jurusan IPS. Ekonomi bagi saya bukanlah mata pelajaran favorit namun saya sangat suka dengan cara mengajar Bu Jum, sehingga materi pelajaran ekonomi terasa mudah untuk dipahami.

Suatu ketika, entah kenapa kelas kami begitu riuh, yang saya ingat waktu itu jam pelajaran terakhir. Entah karena bosan, banyak diantara kami dikelas yang asyik mengobrol tanpa mempedulikan Bu Jum yang tengah serius menerangkan pelajaran.

Tak hanya teman – teman yang memang sudah terkenal suka meribut di kelas, saya pun terbawa suasana. Beberapa kali teguran disampaikan agar kami memperhatikan namun kami tak bergeming, kami sibuk dengan obrolan bahkan beberapa teman di kursi belakang asyik bercanda.

Puncaknya, Bu Jum berteriak keras dan menggedor white board dengan keras. Teriakan dan gedoran Bu Jum cukup membuat kami semua terdiam, beberapa saat Bu Jum terdiam, lalu mulai berkata – kata dengan terbata. Tampak air mata Bu Jum mulai menggenang, lalu bulir air mata itu pun jatuh menandai betapa emosinya Bu Jum menghadapi tingkah laku kami di kelas.




Saya kemudian tertunduk merasa bersalah. Kok bisa – bisanya kami semua alpa memperhatikan materi Bu Jum hingga membuat guru yang selama ini sangat tenang dan berwibawa sampai menangis di kelas.

Dengan emosi yang berangsur mereda jam pelajaran pada hari itu dihabiskan dengan kisah sedih bagaimana perjuangan Bu Jum hingga berhasil menjadi seorang guru.

Dari kisah Bu Jum, ternyata begitu banyak pengorbanan yang dialaminya dalam menempuh pendidikan, karena Bu Jum sendiri bukan terlahir dari keluarga kaya sehingga untuk membiayai pendidikan Bu Jum kakak beradik ikut serta bekerja untuk membiayai sekolah.
Bahkan karena ketidakmampuan orang tuanya, Bu Jum harus memakai pakaian atau sepatu yang sudah robek ke sekolah.
Tapi keadaan tersebut tidak mematahkan semangatnya untuk menggapai cita – cita.

Sumber Ilustrasi Gambar: https://motivatorkreatif.files.wordpress.com/2015/03/poster-guru-kreatif-siswa-responsif.png




Dari kisah tersebut, Bu Jum ingin mentransfer semangat dalam menempuh pendidikan. Akhir dari kisah Bu Jum beliau berpesan, jangan sia – siakan kesempatan, banyak orang yang tidak sempat mengeyam bangku sekolah karena tidak memiliki biaya. Belajarlah dengan baik dan sungguh – sungguh karena dengan begitulah cita – cita akan terwujud.

Kisah Bu Jum membuat saya menjadi malu, saya kemudian mengaca diri, betapa naifnya saya, yang sebenarnya juga bukan terlahir sebagai anak orang kaya tapi masih saja santai dalam mewujudkan cita – cita.
Perjuangan Bu Jum yang diceritakan dengan buliran air mata seolah menyadarkan saya betapa beruntungnya kita yang memiliki kesempatan untuk bersekolah.
Terima kasih Bu Jum

*Tulisan ini saya dedikasikan untuk Ibu Jumharnis, guru SMAN 1 Solok Selatan.




Leave a Comment