SENYUM SIMPUL BAU GAS KOMPOR

Related Post

  • No related post.





Oleh: Rahmawati Eka Handayani(Mahasiswi S2 Statistika Terapan IPB Bogor – Dosen tetap dan Tim UPM IAI Agus Salim Metro Lampung)

Kuliah jauh dari orang tua, mengharuskan ku untuk menyewa sebuah kosan, ini ceritaku saat aku kuliah di semester 2. Namaku Reka, waktu itu aku seorang mahasiswi S2 jurusan statistika terapan di salah satu universitas negri di Pulau Jawa. Aku menyewa kosan dengan teman-teman seperantaun lainnya yang berbeda beda daerah. Saya sendiri dari lampung, ada lagi yang dari kalimantan, solo, makassar dan daerah lainnya. Namun kita masih di jurusan yang sama, hanya saja berbeda angkatan.

Di kosan kami juga ada bibi yang bekerja mencucikan pakaian kami. Bukannya kami malas untuk mencuci pakaian, tapi karena kami ingin membantu menambah penghasilan bibi yang memang sedang mencari tambahan nafkah untuk keluarganya. Suaminya masih hidup, namun penghasilan suaminya belum cukup untuk menafkahi keluarganya, sehingga bibi bekerja di kosan kami. Bibi selalu datang setiap pagi kira-kira pukul 8 dan pulang setelah selesai menyetrika pakaian kira-kira pukul 2 siang.

Kosan kami jika dilihat dari depan pasti orang mengira bukan sebuah kosan, namun terlihat seperti rumah warga biasanya, apalagi terletak di depan jalan besar. Karena kosan kami seperti rumah pada umunya, terdiri dari ruang tamu lengkap dengan kursi dan televisi ukuran 21 inchi dengan 9 kamar, ada dapur lengkap dengan kompor gas serta disediakan kulkas juga oleh ibu kos dan 2 kamar mandi. Kami membayar kosan hanya membayar kamarnya saja dengan harga yang relatif murah di banding dengan kosan yang lainnya di daerah kampus. Namun untuk pembayaran listrik, air, dan gas untuk memasak, kami sendiri yang harus menaggung. Sehingga kami harus belajar bagaimana cara menghemat supaya tagihan tidak membengkak setiap bulannnya.




Pada suatu pagi di hari libur sekitar pukul 09.00 WIB, aku di kamar sedang menyelesaikan tugas kuliahku yang deadlinenya lusa. Tiba-tiba rita adik tinggkatku yang hanya beda satu angkatan keluar kamar.

“Kok bau gas ya”, kamar Rita memang lebih dekat dengan dapur, sehingga jika ada bau gas, pasti dia yang pertama kali mencium. Sedangkan kamarku dekat dengan ruang tamu.

“ Masa sih Rita “ teriak sekti yang terdengar jelas dari depan kamarku.

“ Yang bener rita bau gas?” salah seorang lagi berteriak sambil keluar dari kamar nya, mungkin mba wiwit teman kami yang tertua, karena terdengar dari logat sundanya. Sedangkan aku masih santai asik mengerjakan tugas, mungkin gasnya habis pikirku.

“ Iya bau gas mba” sahut rita.




Sekti akhirnya keluar kamar memastikan, terdengar dari suara nya membuka pintu kamarnya yang terletak di depan kamarku, “heemmm, iya gas nya bauuu, wah aku takutt” kata sekti yang orang nya memang suka berlebihan.

Tiba-tiba bibi yang habis menjemur pakaian datang.

“Ada apa neng kok ribut ribut?”

” ini bi, gas nya bauu bi ” sahut rita terdengar panik.
Waktu itu di kosan hanya ada 4 orang, aku, rita, sekti, dan mba wiwit, yang lainnya mungkin sedang ada urusan di luar.

“ Kok bisa neng, kan baru seminggu kemaren gantinya” kata bibi sambil menuju dapur, mendengar bibi bilang seperti itu semua temanku langsung panik dan berlari keluar kosan, kami semua memang sangat takut kalo ada bau gas kompor.




“Gasnya bauuu” salah satu dari ketiga teman ku berteriak sambil berlari.

Mendengar teman-temanku berlarian keluar kosan, aku pun langsung menjambret jilbab yang terdekat dan ikut keluar karena panik, dan yang teringat di pikiranku adalah tugas ku yang belum selesai.

Sesampainya di luar, tiba tiba rita mengagetkanku “kak reka! ngapain bawa- bawa laptop “ kata rita di sampingku,

“eh anu tugas ku belum selese” aku pun hanya tersenyum malu, “ kak reka kalo gas nya meledak yang diselametin pertama laptop nya ya“ tambah rita meledek di lanjut ketawa teman-teman yang lainnya.

Dan ternyata gas di kosan kami selang penutup nya sedikit terbuka yang menyebabkan gas nya berbau. Akhirnya bibi memanggil bapak kos untuk membenarkan selang gasnya. Teman-temanku masih saja meledekku sambil kembali ke kamar nya masing-masing.




Leave a Comment