Perjuangan Menjadi Mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir (Bagian 1)





Oleh: Andri Azis Putra (Alumni S1 Aqidah Filsafat Universitas Al Azhar Kairo – Mahasiswa S3 Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta)

 

“Ada beberapa orang yang hidup dalam dunia impian,
dan ada beberapa orang lainnya yang menghadapi kenyataan;
dan kemudian ada orang-orang yang mengubah salah satu menjadi yang lain”
(Douglas H. Everett)

 

Ini Tentang Impian, Bung!

Semenjak lama impian sudah menjadi jembatan antara alam nyata dan alam khayalan manusia. Bisa jadi terhadap hal yang belum terjadi dan bisa juga terhadap hal yang justru tak sempat terjadi. Berada pada pilihan manapun, impian cenderung mengembirakan dan memberi tawaran lain terhadap peliknya hidup.

Mesir adalah salah satu negeri yang telah berteman akrab lama dengan impian sebahagian manusia. Ratusan bahkan ribuan orang menjalar masuk dan keluar di negeri Piramida ini setiap harinya. Bagaimana tidak, pemandangannya nan eksotik, situs-situs kuno bersejarah, dan terakhir tawaran tempat belajar murah namun bertaraf “luar negeri”. Saya sangat menyukai ketiga alasan ini, terlebih poin terakhir.

Empat tahun lalu, di sela-sela acara talk show salah satu radio Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) saya pernah ditanya, “Mengapa Mesir sangat laku di kalangan pelajar Indonesia?” Dan jawaban yang saya berikan tidak lebih lebih dengan tiga poin di atas. Sama halnya dengan saya, sang penyiar juga tertarik terhadap alasan terakhir itu. Lebih tepatnya ingin mengetahui alasan pribadi saya mengatakan hal itu.




“Hanya Mesirlah yang membuat impian untuk belajar di luar negeri santri-santri miskin seperti saya bisa terwujud” Ujar saya ketika itu. Dengan agak terkekeh penyiar itu melanjutkan pertanyaannya: “Apakah alasannya juga sama untuk sisi dan proses secara akademisnya?” Pertanyaan kali ini saya rasakan khusus tertuju untuk saya sebagai ketua KPP MABA ketika itu. Setelah beberapa saat saya akhirnya menjawab, “Mungkin karena Mesir (Al-Azhar) juga tidak mempermasalahkan kemampuan akademis seorang pelajar Indonesia untuk bisa memasukinya” Ujar saya waktu itu. Meski kita akhirnya berbagi tawa namun moodberbicara saya menjadi agak tersendat setelah itu.

Kikuk dan agak-nelangsa. Kira-kira begitu yang saya rasakan setelah menjawab pertanyaan yang cukup menohok itu. Mungkin tak ada yang terlihat ganjil dari jawaban yang saya berikan. Karena yang ganjil itu adalah pada apa yang tertulis pada lembaran-lembaran kertas yang menjadi teman harian kami di KPP. Sesuatu yang terkadang ikut menjadi teman penghibur di antara kepenatan.

Kilas Balik Yang Benar-benar Sekilas

Tahun 2006 yang silam adalah kali pertama Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Agamanya mengadakan tes kelayakan masuk ke Universitas Al-Azhar Mesir. Pada saat itu lebih dari seribu orang mantan pelajar bergabung untuk mencoba peruntungan belajar ke “luar negeri”. Ada dua tahap tes yang dilakukan yaitu ujian tulis yang berisi materi keagamaan-bahasa arab dan ujian lisan (wawancara) dengan materi hapalan al-Quran dan kemahiran percakapan. Setelah itu sekitar tiga bulan berlalu hasil tespun dikeluarkan dengan jumlah calon mahasiswa sebanyak 600 orang lebih.

Dan saya adalah salah satu dari 600 orang yang beruntung itu. Luar biasa dan begitu sempurna! Kira-kira begitulah jika saya harus mengungkapkan bagaimana rasanya dianggap layak masuk ke Universitas Al-Azhar. Tidak hanya masalah namanya yang kesohor, keberadaannya di “luar negeri”nya juga membuat semangat saya naik drastis. Meski tak yakin semua peserta tes yang lulus merasakan hal yang sama, namun setidaknya lebih 70 persen tentu begitu. Untung saja saat itu jaringan-jaringan sosial semisal Friendster.com, Facebook.com, Myspace.com, Twitter.com dll belum segila hari ini. Kalaulah tidak, tentu riang gembira kami telah langsung membanjiri status-status atau testimony-testimoninya, waktu itu.

Singkat cerita, perjalanan menuju ke Azhar akhirnya saya mulai dengan menginjakkan kaki di Bandara Kairo pada bulan Oktober 2006. Salah satu perjalanan panjang nan indah yang pernah saya lakukan, sekaligusnya pertama kalinya. Setelahnya, beberapa hari di Mesir saya diajak berkeliling kuliah oleh seorang senior dengan beberapa kawan baru lainnya. “Wah, ternyata kampusnya jauh lebih kecil dari IAIN ya” Ujar saya lugu waktu itu. Meski demikian, kekaguman di dalam hati tidak menjadi luntur. Karena saya yakin para ulama seperti Dr. Yusuf Qaradhawi, Dr. Ali Jum’ah, Sheikh Shaarawi, Sheikh Mohammad Sayyid Tantawi dan lainnya juga pernah lama belajar di bangunan tua ini.

Itu adalah sekelebat memori yang masih saya rasakan indah sampai saat ini. Sesuatu yang kemudian sempat menghilang seiring dengan perjalanan waktu. Mesir memang selalu kaya dengan hal-hal menakjubkan, salah satunya kekayaan ilmu yang seakan tak pernah berkurang di lambungnya. Ratusan tempat belajar gratis dengan terbuka berjejer hampir di seluruh pelosok negeri. Pemandangan dan rekaan yang sangat luar biasa untuk dibayangkan. Namun waktu juga yang akhirnya membuat saya mengakui; tidak demikian halnya ketika berusaha dijalani.

Semangat yang ada, himpitan perasaan yang kadang kala kacau karena sesuatu yang tidak dimengerti. Pada sebahagian kawan-kawan lain, bahkan rindu pulang kampung juga ikut menggalaukan suasana. Belum lagi yang beberapa tahun mencoba namun tetap tidak naik-naik kuliah dan kemudian stress karena ancaman akan di DO. Uang jajan yang kadang tidak cukup karena berbagai masalah harian. Bea siswa yang tidak selancar dan semudah yang dibayangkan atau diiming-imingkan sebelum berangkat.

Belum lagi, keamanan Mesir yang kadang tidak menentu. Terutama bagi manusia Indonesia yang masih berbau rendang, nasi uduk, mpek-mpek atau sate madura. Tawaran gabung dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang datang silih berganti. Keinginan untuk turut aktif membangun kampung asal dengan mengikuti program-program yang dibuat oleh organisasi kekeluargaan. Sibuk mengomentari pertempuran-pertempuran kecil di tengah-tengah (yang disebut) dinamika kemahasiswaan milik Masisir. Serta lowongan-lowongan pekerjaan sambilan yang cukup menggiurkan untuk menambah isi kantong. Serta beberapa hal lain yang bisa jadi berbeda level rasanya tergantung yang merasakan.

Seperti yang terlihat, berada di luar negeri belum tentu membuat masalah tanah air tidak menyertai kita. Buang jauh-jauh pikiran bahwa Indonesia hanya ada di Indonesia, karena Indonesia itu bisa jadi ada dimana-mana.

Sementara itu, waktu bergerak dengan cepat dan lambat selama 5 tahun kemudian. Dan akhirnya sampailah saya pada saat yang “katanya” ditunggu-tunggu oleh kebanyakan orang, diwisuda. Meski sampai sekarang saya masih agak kurang mengerti prosesi itu dimana nilainya. Ya, tentu saja yang saya maksud selain acara poto-poto dengan baju Azhari dan berkumpul dengan teman-teman. Di antara mereka bahkan ada yang mungkin pernah saya jumpai hanya sebanyak dua kali. Ketika awal datang ke Mesir dan pada acara wisuda ini.

Bersambung…

Sumber Ilustrasi Foto:
https://www.catholicnewsagency.com/images/Al_Azhar_University_Egypt_Credit_Waj_Shutterstock_CNA.jpg



Leave a Comment