Tips Menulis Essay LPDP: Kontribusiku Bagi Indonesia





Kontributor: Anggun Gunawan (Awardee BPI Reguler LN LPDP 2017 tujuan MA in Publishing Media Oxford Brookes University UK)

 

Salah essay yang harus dilampirkan dalam mendaftar beasiswa LPDP adalah “KONTRIBUSIKU BAGI INDONESIA”. Essay ini menguraikan tentang kontribusi yang telah, sedang dan akan teman-teman lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi komunitas dalam rentang 500-700 kata.

Poin-poin yang harus teman-teman masukkan dalam essay ini adalah:

  • Deskripsikan diri.
  • Deskripsikan kontribusi yang telah, sedang dan akan lakukan untuk masyarakat/lembaga/instantsi/profesi dan komunitas.
  • Deskripsikan mimpi tentang Indonesia masa depan.
  • Deskripsikan peran apa yang akan  dilakukan.
  • Deskripsikan cara mewujudkan mimpi tersebut.

 




Satu hal yang penting diingat, JADILAH DIRI SENDIRI dan MENULIS DENGAN JUJUR terkait dengan apa yang sudah dan sedang teman-teman lakukan. Kemudian mimpi yang teman-teman pikirkan untuk Indonesia sedapat mungkin adalah mimpi yang bisa diimplementasikan di dunia nyata.

Berikut essay “Kontribusiku Bagi Indonesia” yang saya lampirkan ketika mendaftar beasiswa LPDP periode ke-2 tahun 2017.




 

KONTRIBUSIKU BAGI INDONESIA

Oleh: Anggun Gunawan

Pelamar Beasiswa LPDP

 

Sejak tahun 2010 sampai saat ini saya mengelola sebuah penerbitan buku yang bernama Gre Publishing. Hingga pertengahan 2017, Gre Publishing sudah menerbitkan lebih dari 120 judul buku yang 85% nya adalah buku-buku akademik dan 50% nya adalah buku-buku yang dikonversi dari karya-karya ilmiah baik skripsi, tesis, disertasi dan hasil penelitian. Buku-buku tersebut beberapa mendapatkan antusiasme secara internasional yang dibuktikan dengan perpustakaan di berbagai negara mengkoleksi buku-buku tersebut, antara lain: National Library of Australia, Australian National University Library, Johann Wolfgang Goethe Universität Frankfurt Am Main, Leiden University, Cornell University dan Wisconsin Madison University.

Pemicu saya untuk mengabdikan diri di dunia penerbitan ada 2 hal. Pertama, adalah “sindiran” yang ditulis oleh ilmuwan Asia Tenggara kenamaan, Prof. Anthony Reid, dalam tulisannya “Indonesia dan Dunia Sesudah 66 Tahun” yang dimuat oleh Majalah Tempo Edisi 14-20 November 2011. Profesor sejarah berkebangsaan Inggris ini menulis,

“Walaupun semakin banyak orang Indonesia belajar di luar negeri, mereka yang ada di bidang ilmu sosial menulis hampir secara eksklusif tentang negaranya sendiri, Indonesia. Hanya tinggal segelintir ilmuwan di universitas di Indonesia yang meneliti dan mengajar tentang negara selain Indonesia. Namun hampir 90% karya tertulis tentang Indonesia di jurnal-jurnal akademis internasional ditulis oleh orang yang tidak tinggal di Indonesia – sesuatu yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling tidak efektif di dunia dalam menjelaskan dirinya kepada dunia.”

 




Alasan kedua saya ingin menekuni keilmuan Publishing Studies adalah berkaitan dengan kondisi academic publishing di Indonesia saat ini. Dalam rentang waktu 1996 sampai 2008, Indonesia hanya mempublikasikan sekitar 9000 karya ilmiah. Raihan ini lebih rendah dibandingkan pencapaian Thailand dan Malaysia, apalagi jika dengan dibandingkan dengan Singapura, Afrika Selatan dan Mexico. Pada tahun 2014, Indonesia hanya mampu menorehkan 0,65% publikasi akademik di kawasan Asia Tenggara. Padahal dari segi kuantitas penduduk Indonesia yang paling besar di Asia Tenggara.

Persoalan digitalisasi jurnal ilmiah juga menjadi problem tersendiri bagi Indonesia. Pada tahun 2013 hanya 109 jurnal Indonesia yang terdaftar di Directory of Open Access Journals (DOAJ). Di tahun 2012, ada 145.000 karya ilmiah yang dipublikasi oleh seluruh institusi pendidikan dan riset Indonesia. Tetapi hanya 1.314 yang dipublikasikan di jurnal kaliber internasional.

Mimpi saya untuk Indonesia adalah bisa berkontribusi dalam membangun industri academic publishing di dalam negeri sehingga semakin banyak publikasi ilmiah peneliti dan dosen di Indonesia yang menembus “pasar” atau “dunia akademik” internasional serta bisa membangun academic publishing sebagai sumber devisa negara. Pendapatan akumulatif yang bisa didapatkan oleh 1000-an penerbit di Indonesia pada tahun 2013 hanya 700 miliar rupiah. Bandingkan dengan raihan satu penerbit internasional yang berbasis di Belanda yang bernama Elsevier yang bisa mengumpulkan uang 27 triliyun rupiah pada tahun 2013. Raihan elvesier itu didapat dari “main business”-nya, yakni publikasi akademik baik dalam bentuk buku maupun jurnal.

UGM – misalnya – menghabiskan lebih dari 5 miliar rupiah setiap tahun untuk langganan jurnal internasional. Saya malah berpikir, kalau pemerintah serius membuat komite jurnal internasional, Indonesia akan berkembang menjadi negara sebagai pengekspor jurnal, bukan malah menjadi negara yang menjadi “pasar” jurnal internasional.




Kendala yang dihadapi secara umum adalah para dosen dan peneliti kita masih terkendala dengan bahasa Inggris. Persoalan ini bisa diatasi secara jangka menengah dan panjang dengan program pengkaderan “5000 editor” yang memiliki kemampuan academic writing dan penerjemahan yang bagus serta dilengkapi pengetahuan di bidang keilmuan tertentu. Saya yakin, kalau pemerintah serius dengan agenda menjadi “eksportir jurnal internasional”, ini akan menjadi sumber baru bagi devisa negara. Hal selanjutnya yang akan saya lakukan adalah berkontribusi dalam program digitalisasi publikasi ilmiah Indonesia baik jurnal maupun buku sehingga pemikiran-pemikiran akademisi Indonesia bisa diakses secara online dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Sepulang kuliah dari Oxford Brookes University ada tiga hal yang ingin saya lakukan di Indonesia. Pertama: memperbanyak publikasi dalam bidang akademik dengan target menerbitkan skripsi, tesis dan disertasi sebanyak mungkin baik diterbitkan sendiri oleh penerbitan saya (Gre Publishing) maupun dengan mendorong penerbitan kampus mitra Gre Publishing untuk melakukan program maksimalisasi penerbitan buku-buku dosen dan hasil riset mahasiswa. Kedua, menjadi advisor dan penerjemah bagi kampus-kampus untuk edisi berbahasa Inggris untuk jurnal dan buku-buku. Ketiga, target jangka panjang saya 10 tahun ke depan adalah membuka sekolah tinggi bidang penerbitan. Hal ini didorong bahwa belum adanya sekolah tinggi khusus penerbitan di Indonesia. Padahal bidang ini sangat potensial dan terus berkembang dari masa ke masa sehingga membutuhkan tenaga-tenaga yang terampil dan profesional yang memang sejak awal sudah mendapatkan pengetahuan dan pendidikan di bidang publishing studies.

 

Sumber Ilustrasi Foto:
https://bedsandhomes-925a.kxcdn.com/wp-content/uploads/2015/12/Best-Keyboard-for-Fast-Typing-640×342.jpg



Leave a Comment