Ambilah Peranmu di Dunia Kampus

Related Post

  • No related post.

Oleh: Sri Suryani (Lahir di Ponorogo 01 Januari 1997. Ia adalah putri kedua dari empat bersaudara. Masa kecil hingga MA ia habiskan di tanah lahirnya, Ponorogo. Merupakan Mahasiswi jurusan Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Yogyakarta angkatan 2015)

 




Saat SMA dulu, sering berkhayal betapa asyiknya menjadi mahasiswa. Dapat bebas melakukan apa saja yang ia kehendaki tanpa adanya Pekerjaan Rumah yang mengikat diri di rumah. Saya termasuk anak yang beruntung waktu itu, dari sekian banyak pendaftar dari jawa timur yang mengikuti seleksi, setelah  mencoba beberapa jalur seleksi perguruan tinggi, alhamdulillah diberi kesempatan untuk masuk kuliah dengan jalur tanpa tes dan dapat beasiswa S1 di salah satu perguruan tinggi negeri di kota pelajar Yogyakarta.

Diawal masuk memang sangat mengasyikkan, bayak teman dari berbagai daerah. Benar kata guru SMA saya waktu itu “ teman SD hanya sekampung, teman SMP hanya sekecamatan, teman SMA hanya sekabupaten, nanti kalau sudah kuliah teman kalian akan se-Indonesia, berbagai macam suku dan bahasa akan berbeda dengan tempat asalmu ”. Senang ketika berkenalan dengan teman-teman dari seluruh negeri, ada yang dari Palembang, Jambi, Sumbawa, Kebumen, dan berbagai daerah lainnya. Ragam bahasa akan kita temukan di dunia kampus, kita harus menyesuaikan diri untuk terbiasa berbicara dengan bahasa persatuan negeri ini yakni bahasa indonesia. Seringkali saat berkomunikasi kita terbawa logat dari masing-masing tempat asal kita dan  tidak jarang kita akan mempunyai arti kosakata baru dari logat bahasa tersebut. Pernah saat itu terjadi miskomunikasi dengan teman saya asal Yogyakarta, kata “sikep” apakah pernah dengar?, kata ini apabila di Jawa Timur artinya “menutup mata”, tetapi kalau di daerah Yogyakarta artinya jauh beda yaitu “peluk”. Coba bayangkan saat kita berbicara dengan teman kita yang laki-laki dari Yogyakarta, sementara kita yang perempuan dari Jawa Timur berbicara “tolong sikep saya”, apa yang akan dilakukan teman Yogyakarta waktu itu. Heran, lucu, seram dan terkejut bercampur jadi satu saat kita mengetahui arti dari bahasa masing-masing daerah kami dan akhirnya kami tertawa bersama saat mengetahui keunikan dari arti bahasa kami.




Kehidupan kampus sangat berbeda dengan masa-masa SMA dulu. Butuh waktu memang untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan yang ada dikampus, kita juga harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang ditawarkan oleh kampus. Di SMA hanya ada kurang lebih 10-15 an organisasi dan ekstrakulikuler, sedangkan di kampus organisasi maupun ekstrakulikuler melebihi apa yang kita bayangkan, puluhan organisasi bahkan ratusan ekstrakulikuler yang difasilitasi oleh kampus dan dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa semaksimal mungkin. Kalau di SMA Ekstrakulikuler olahraga mungkin ada sekitar 3-5 cabang olahraga yang ditawarkan, sementara di Universitas ekstrakulikuler olahraga itu mulai dari cabang olahraga darat sampai cabang olahraga air, tinggal memilih olahraga mana yang kita sukai. Cabang olahraga itu bahkan dijadikan organisasi karena memang banyak sekali mahasiswa yang berminat di cabang olahraga itu dan memerlukan pengurus untuk mengurusi kebutuhan anggota yang ikut tergabung dalam cabang olahraga tersebut. Jadi pikirkan baik-baik sebelum masuk kampus, organisasi dan ekstrakulikuler apa yang akan kita inginkan dan ikuti, ambil peranmu nanti saat sudah memasuki dunia kampus.




Berbicara tentang peran yang diambil saat menjadi anak kampus, ada beberapa fase waktu menurut pengamatan saya, dimana fase itu dapat dibagi menjadi tiga, yaitu;

  1. Pembukaan, atau saya menyebutnya dengan pengenalan kampus.

Disini mahasiswa baru mulai terpesona dengan kehidupan awal kampus, terpesona dengan style-nya, dengan gaya bicara mahasiswa nya, dengan orang-orangnya dan berbagai keindahan serta kebanggaan yang diperlihatkan saat awal masuk kampus. Diawal kuliah, kita akan mengenal berbagai macam organisasi dan bayak sekali keinginan kita untuk memasuki semua organisasi dan ingin mengikuti segala jenis ekstrakulikuler. Itu wajar, karena memang mahasiswa baru umumnya masih memiliki semangat dan keingintahuan yang tinggi. Satu lagi, jangan langsung berfikir kehidupan kampus yang sesungguhnya itu seperti di sinetron televisi yang berbau hal romantisme dan dapat main kesana-kemari tanpa ada beban hidup yang ditanggungnya, justru kehidupan kampus yang sebenarnya itu penuh dengan tantangan dan cobaan hidup. Jangan berfikir tidak ada tugas berat yang akan dikerjakan, bahkan ada banyak laporan praktikum setiap minggunya, apabila yang masuk jurusan MIPA dan Teknik atau jurusan yang ada mata kuliah praktiknya. Untuk jurusan Humaniora, biasanya ada tugas presentasi kelompok yang membutuhkan analisis dan membutuhkan referensi buku yang cukup banyak untuk menganalisisnya. Berbagai tugas kampus itu bahkan akan dapat menyita waktu kita, apabila kita tidak pandai dalam memanfaatkan waktu.

  1. Fase isi atau saya menyebutnya sebagai “jalan pilihan”.

Di fase ini kita akan bingung mau mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler yang mana atau malah tidak pilih sama sekali. Kita akan merasakan kebingungan, apa yang akan kita tinggalkan dan apa yang akan kita pilih untuk dijalani sampai akhir. Di fase ini kita perlu seseorang untuk membantu kita dalam mempertimbangkan pilihan kita. Kalau dapat berbicara dan curhat dengan orang tua atau keluarga malah lebih baik lagi, tetapi kalau memang tidak bisa dengan orang tua minimal kita sudah memiliki teman yang dapat kita percaya untuk memberikan solusi pilihan kita. Saran saya pilihlah organisasi dan ekstrakulikuler sesuai dengan keinginan dan impianmu, jangan memilih dengan perasaan, karena hal itu akan membuatmu bimbang dengan pilihanmu sendiri.

  1. Fase yang terakhir yaitu Fase Penutup, atau saya sebut sebagai “Fase Akhir dan Titik Jenuh”.

Di Fase ini, kita sudah merasakan pahit manisnya ada di dalam organisasi dan ekstrakulikuler. Kita bisa jadi akan merasakan kejenuhan kuliah, dan bisa juga merasakan semangat berorganasi tapi jenuh dalam kuliah, bisa juga merasakan kejenuhan di kedua-duanya. Disini kita memerlukan semangat yang ekstra untuk membangkitkan semangat kuliah dan berorganisasi, karena di fase ini memang benar-benar banyak beban yang difikirkan, mulai dari tugas kuliah yang seabrek dan tugas organisasi yang meggelayuti pikiran.  Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari apa yang kita ikuti di fase ini. Dapat pengalaman organisasi menjadi staff maupun menjadi punggawa organisasi tapi dengan kuliah yang tetap stabil, ada juga yang jaya di organisasi tetapi minim di pelajaran kuliahnya, ada juga yang jaya kuliahnya tetapi minim di organisasinya. Tinggal bagaimana kita menyikapi hal itu. Disini kita serasa mendapat buah hasil dari pilihan yang kita ambil di fase kedua.




Yang pasti apapun yang kita lakukan didunia kuliah, kita harus lakukan dengan sepenuh hati apa yang menjadi pilihan kita. Tetap berpegang teguh dan yakin dengan pilihan kita serta jaga semangat agar tidak surut di pertengahan jalan. Semangat boleh saja turun tapi setelah itu segera bangkit dan lanjutkan perjalanan.

Okke semoga penjelasan diatas dapat menjadi pandangan dalam memilih pilihan yang tepat. Jangan lupa semangat organisasi semangat juga kuliahnya.



Sumber Ilustrasi Foto:
https://kemahasiswaan.unram.ac.id/wp-content/uploads/2017/10/mahasiswa-1024×615.jpg

Leave a Comment