MEMAHAMI DAKWAH ANTI RIBA

Related Post

  • No related post.

 



Dari beberapa kajian Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi, Lc., MA (Pakar Ekonomi Islam lulusan S2 dan S3 Muhammad Ibnu Suud University Riyadh) yang saya dengarkan, terungkap bahwa beliau memberikan penyadaran yang menjadi bentuk perlawanan terhadap ekonomi kapitalistik sekaligus menganjurkan umat untuk hidup sekuat kemampuannya, saling ta’awun di antara sesama muslim, dan meletakkan rizki dalam koridor tauhid kepada Allah.

Berikut poin-poin yang bisa saya pahami dari dakwah anti riba yang dlakukan oleh Ustadz Erwandi:

1. Rizki itu harus diyakini adalah sesuatu yang datang dari Allah. sehingga asbab (sebab) tetap kita lakukan, tetapi apapun hasil yang didapatkan maka kita harus benar-benar menyakini bahwa semua rizki kita datang dari Allah bukan semata-maba karena hebatnya ilmu dalam bekerja dan kepandaian kita berbisnis.

2. Seorang muslim seharusnya hidup sesuai dengan kemampuannya. Kalau misalnya uang yang ia punyai hanya mampu untuk mengontrak rumah, maka cukuplah ia mengontrak rumah, tak perlu mengambil KPR. Jika uang yang dia punya hanya cukup untuk membeli motor, maka cukup beli motor. Tak perlu beli mobil pakai lising (kredit).

Kecenderungan orang untuk berhutang seringkali disebabkan oleh ketidak-mampuannya mengontrol hawa nafsu dan syahwat kepemilikan harta sehingga iapun dibelit oleh hutang-hutang yang menjeratnya bertahun-tahun dengan bunga yang besar.




3. Menghindarkan diri dari riba tidak serta-merta membuat seorang muslim meninggalkan transaksi dengan Bank. Tetapi ia bisa meminimalisir kemungkinan jatuh dari perkara riba yang lebih berat dengan mencari lembaga keuangan syariah yang telah mempraktekkan nilai-nilai ekonomi Islam secara benar. Jikapun harus memakai jasa bank konvensional maka cukuplah baginya dengan niat sekedar memudahkan transaksi dan demi keamanan uang bukan karena semangat mencari bunga dan pertambahan uang.

Dari sisi seorang muslim yang berposisi sebagai orang-orang yang punya wewenang untuk mengambil kebijakan dalam hal keuangan di berbagai level diharapkan untuk mempelajari bentuk-bentuk produk-produk keuangan yang benar-benar syar’i. Sehingga dengan itu ia bisa menyelamatkan kaum muslimin dari praktek riba yang diharamkan oleh Allah. Jihad ini dilakukan dengan sekuat tenaga. Dan cukuplah Allah mencatat proses perjuangannya itu. Soal hasilnya, maka Allah tidak menuntut hasil dari kerja-kerja dakwah. Karena para Nabi pun banyak yang dalam berdakwah tidak menunjukkan hasil yang siginifikan hanya punya satu dua pengikut saja.

4. Pengharaman Riba oleh Allah bukan berarti Allah tidak memberikan peluang kepada umat Islam untuk menjadi orang kaya. Allah menghalalkan jual beli (barang) dan mengharamkan riba. Ketika sampai di Madinah setelah hijrah dari Makkah dengan meninggalkan sekian banyak harta bendanya, Abdurrahman bin Auf minta ditunjuki dimana pasar Madinah. Dari sanalah beliau menjadi saudagar bahan kebutuhan pokok. Hingga menjadi orang yang sangat kaya raya di masanya.

Tetapi Allah ingin umat Islam menjadi kaya dengan cara tidak mendzolimi orang lain. Dalam praktek riba, yang terdampak sangat banyak dan meluas. Bisa ratusan juta bahkan miliaran orang. Riba melahirkan inflasi. Inflasi mengakibatkan turunnya nilai tukar dari uang yang dimiliki oleh seseorang sehingga barang yang bisa ia beli semakin berkurang. Jika inflasi terjadi di sebuah negara, maka bisa dihitung berapa jumlah manusia yang akan terdampak dari efek inflasi yang ditimbulkan oleh riba tersebut.

Seorang pengusaha yang mendapatkan modal usaha dari pinjaman berbunga, akan memasukkan item bunga tersebut dalam harga jual produk barang atau jasa yang ia jual atau tawarkan. Sehingga mau tidak mau harga barang atau jasa yang ditawarkan kepada pembelipun menjadi lebih mahal. Karena ia harus menghitung berapa besaran bunga yang harus ia bayarkan kepada bank selain pokok hutangnya. Kenaikan harga barang sesungguhnya juga berdampak kepada masyarakat banyak.




5. Umat Islam harus memikirkan dibentuknya lembaga keuangan syariah yang benar-benar syar’i dimana tidak boleh ada pertambahan uang ketika terjadi transaksi pinjam meminjam. Dimana lembaga keuangan tersebut bisa mendapatkan dana dari sumber-sumber potensi umat seperti: Zakat (di antara hasnaf yang 8 ada kelompok orang-orang yang berhutang), wakaf, dan sedekah. Dana-dana itu bisa diletakkan di lembaga keuangan syariah yang memberikan layanan produk pinjam-meminjam tanpa bunga.

Kemudian orang-orang yang bekerja di sana digaji dari uang apa? Yang dilakukan oleh Bank Konvensional dalam menggaji karyawan adalah dari selisih keuntungan bunga tabungan dengan bunga pinjaman nasabah. Nah, biaya operasional lembaga keuangan syariah bisa diambilkan dari dana Zakat, wakaf dan sedekah. Bukankah amil zakat dikasih porsi 1/8 dari zakat yang diperoleh. Sehingga sesungguhnya jika porsi itu dimanfaatkan dengan baik sebenarnya bisa untuk membiayai gaji karyawan, sewa kantor, dan berbagai fasilitas yang wajib bagi sebuah lembaga keuangan.

6. Harus diakui bahwa negara kita dan juga banyak negara-negara lain di dunia membiayai pembangunan dengan memakai uang pinjaman berbunga dari berbagai lembaga-lembaga keuangan dunia. Kalau dari sisi Mahzab Syafii, praktek peminjaman uang tersebut masuk kategori riba dan produk-produk yang dihasilkan dari pinjaman riba tersebut juga masuk dalam kategori barang riba/barang haram.

Tetapi kumpulan ulama dunia yang tergabung di bawah OKI menjelaskan bahwa praktek peminjaman uang berbunga termasuk transaksi ribawi. Akan tetapi produk-produk yang dihasilkan dari uang tersebut seperti jalan, bangunan, dan lain sebagai bukanlah barang-barang riba dan tidak termasuk fasilitas haram.

Sehingga barang yang didapatkan dari hasil riba seperti motor dan mobil dari lising (kredit) dan rumah yang dari KPR maka sesungguhnya motor, mobil dan rumah itu tidaklah haram. Yang haram adalah proses transaksinya dan kaum muslimin diminta untuk bertaubat darinya dengan segera melunasi hutang tersebut dari praktek ribawi kemudian tidak lagi melakukan pembelian barang dari praktek-praktek ribawi.

7. Praktek riba sebenarnya didorong oleh semangat menjadikan uang sebagai komoditi. Bukan lagi sekedar alat tukar. Ketika uang sendiri dijadikan sama posisinya seperti barang, maka pola pikir yang terbangun adalah uang bisa diputar dan diperbesar nilainya. Kemudian agar proses peranak-pinakkan uang ini bisa berhasil maka dibuatlah sistem yang namanya inflasi. Dimana nilai tukar uang dibuat tidak pernah tetap setiap menit dan jamnya.

Pasar Uang atau Pasar Modal menjadi tempat perjudian yang sangat canggih yang di hari ini hampir tidak ada orang yang mampu melawannya. Karena kalau orang melakukan judi sabung ayam, maka polisi bisa menangkapnya. Tetapi jika nilai tukar uang di pasar modal berfluktuatif terus-menerus, ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan seperti permainan judi maka tak ada satupun lembaga penegak hukum yang bisa menangkap. Karena fluktuasi itu sudah dianggap legal dan keharusan dalam sebuah permainan pasar uang/pasar modal.

8. Selain lahir dari praktek menjadikan uang sebagai komoditas, praktek ribawi juga didorong oleh pandangan bahwa bahwa manusia itu bersifat culas sehingga perlu dibuat sebuah piranti yang membuat orang terikat dalam membayar hutang. Oleh karena itu, selain ditetapkannya bunga, praktek ekonomi ribawi juga mensyaratkan ada jaminan ketika terjadi transaksi pinjam meminjam.




Sementara dalam konsep ekonomi Islam, pemberian pinjaman didasarkan pada semangat ta’awun/saling tolong menolong untuk melepaskan beban finansial seorang muslim. Dan yang meminjam pun punya i’tikad baik untuk berusaha keras mengembalikan uang yang telah dipinjamnya.

Rasa ketidak-percayaan inilah yang membuat Bank selalu dianggap sebagai lembaga terbaik sebagai solusi untuk meminjam uang. Dalam banyak kasus, seringkali banyak orang yang meminjam uang dari sahabat atau kerabat tidak berlaku ahsan terhadap kewajibannya. Seperti telat membayar hutang, atau bahkan tidak membayar hutang sama sekali. Dari pengalaman itulah kemudian rasa saling percaya di antara muslim menjadi sangat tipis. Sehingga rasa iba ketika ada orang yang membutuhkan bantuan pinjaman kemudian dikalahkan oleh ketakutan kemungkinan uangnya tidak kembali lagi.

Terkait dengan hal ini perlu penyadaran yang sangat massif kepada kaum muslimin tentang beratnya beban yang dipikul di akhirat nanti apabila selama hidup di dunia seorang muslim masih menyisakan hutang yang belum dibayarkannya sampai ia meninggal dunia.

 

Penulis: Anggun Gunawan

 

Sumber Ilustrasi Foto: https://visimuslim.org/zina-dan-riba-mengundang-azab/




Leave a Comment