Messianik Yahudi: Juru Selamat Yahudi menurut Telaah Psikoanalisa Erich Fromm

Related Post

  • No related post.





Judul: Messianik Yahudi (Juru Selamat Yahudi dalam Telaah Psikoanalisa Erich Fromm)

Penulis: Anggun Gunawan, S.Fil

Tebal: 123 halaman




Sinopsis:

Secara umum dipahami bahwa Messianisme adalah kepercayaan
akan hadirnya juru selamat di dunia. Konsep ini secara khas hadir di kalangan pemeluk Abrahamic Religion (Yahudi, Kristen, dan Islam), dengan segala keragaman pemahamannya. Buku ini dapat menjadi pintu masuk bagi pemerhati kajian tentang Messianisme dan Yahudi, karena banyak hal diuraikan oleh penulis dari apa itu agama Yahudi (Judaism) dan bangsa Yahudi (Jew) sampai kelompok yang anti Yahudi (Anti Semit), serta yang tentu merupakan tema sentralnya yaitu konsep Messianisme itu sendiri.

Mengkaji tentang agama terutama agama di luar yang dianut,
menuntut tidak hanya objektifitas namun juga kelapangdadaan.
Sebagaimana disinyair oleh Mukti Ali bahwa kajian yang tidak hanya rasional tetapi juga melibatkan emosi adalah mengkaji tentang agama.

Emosi inilah yang biasanya menutup dan menyembunyikan objektifitas ilmu. Kelapangdadaan yang dimaksud adalah kemampuan melepas cara pandang tentang agama lain melalui kacamata diri sendiri diganti dengan kaca mata pemahaman keagamaan penganut agama yang bersangkutan.




Buku ini secara objektif berusaha menampilkan konsep messianik
menurut Yahudi melalui kacamata orang Yahudi sendiri yaitu Erich
Fromm, sehingga sikap prejudice terhadap Yahudi dapat dieliminir.
John Hick melontarkan istilah fortuity of birth, artinya orang tidak dapat menentukan pilihan lahir di mana dan dari rahim siapa.

Kalau saja kita lahir di Mekah kemungkinan besar akan menjadi Muslim, kalau lahir di Vatikan akan menjadi Katholik, demikian pula kalau lahir dari keluarga Yahudi, besar kemungkinan juga menjadi Yahudi. Dengan demikian, seseorang dinilai tidak karena agama yang dianutnya, tetapi karena perbuatan sadar yang ia lakukan. Tentu perbuatan itu bisa positif atau negatif. Pemahaman demikian diperlukan dalam studi agama, agar dialog agama tidak untuk mencari kesalahan agama lain, namun mengkaji kebenaran yang dipahami agama lain untuk memperkaya dan memperkuat keyakinan agamanya sendiri.




Mesianisme adalah masalah perennial, suatu masalah abadi yang
tidak pernah selesai diperdebatkan barangkali sampai sang penyelamat itu sendiri datang. Keragaman pemahaman adalah hal yang niscaya karena setiap pemahaman tidak steril dari kebudayaan, paradigma bahkan kepentingannya masing-masing. Yahudi, Kristen dan Islam memiliki konsepnya sendiri tentang sang juru selamat dengan landasan koseptualnya sendiri pula. Lalu apa yang bisa direfleksikan dari keragaman itu?

 

LINK DOWNLOAD (Klik Cover Bukunya):




 


Leave a Comment