Oxford Diary (1): Homesick di Awal Kedatangan

Oleh: Anggun Gunawan (Mahasiswa MA Publishing Media, Oxford Brookes University)


Tadi siang karena kecapekan, aku terlelap tidur di kamar. Sekitar jam 2-an siang. Jam 3-an aku dibangunkan oleh alarm hape karena jam 4 sore ada meeting pertama kelas English Speaking dan Presentation yang disediakan bagi mahasiswa internasional yang merasa masih perlu untuk upgrade kemampuan berbicara dan bisa mengikuti Seminar yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap module kuliah.


Hawa dingin merasuk ke kamar. Meskipun jendela sudah ditutup rapat dan heater sudah dihidupkan. Musim gugur memang telah menyapa. Oxford semakin dingin dari 17 hari yang lalu saat aku menginjakkan kaki pertama kali. Seminggu ini hampir setiap hari hujan turun. Kalau sudah masuk Fall Season memang hujan akan sering turun walaupun volumenya ngak seperti hujan deras di Indonesia dan dengan durasi yang ngak terlalu lama.
Ada rindu yang menyelimuti. Saat terbangun ada sepi yang merasuk. Sendiri di kamar dan sesaat kemudian tersadarkan bahwa saat ini aku berada 12.000 kilometer dari Yogyakarta.


Biasanya kalau terbangun dari tidur aku masih melihat Wafi juga terlelap di sampingku. Terdengar suara Ibunya lagi memasak di dapur. Tapi 17 hari ini tak ada semua itu. Sepi…


Banyak hal membuat aku harus meninggalkan mereka di Jogja. Wafi masih terlalu kecil untuk dibawa ke negeri asing yang aku sendiripun belum pernah menginjakkan kaki. Cuaca Indonesia yang sangat jauh berbeda dengan cuaca di UK. Kalau Wafi sakit tentu kami akan kebinggungan untuk mencari dokter yang cocok buat Wafi.


Alasan lain adalah karena Gre Publishing. Ngak mungkin meninggalkan Gre Publishing vakum selama setahun. Karena ikatan dengan customer sudah terjalin dengan kuat dan mereka punya beberapa buku yang harus diterbitkan dalam setahun ini. Termasuk juga jika ada orderan buku dari pembeli yang membutuhkan. Ngak mungkin kami bilang, bukunya bisa dibeli setahun lagi. Belum lagi jika ada permintaan tambahan stok dari toko buku tempat kami menitipkan buku.


Gre Publishing sudah aku rintis sejak 9 tahun lalu. Banyak hal yang sudah kukorbankan demi Gre Publishing tetap hidup. Dan salah satu alasanku untuk kuliah S2 Publishing jauh-jauh ke Oxford juga didorong oleh keinginan untuk membesarkan Gre Publishing. Menjadikan Gre Publishing bisa jadi warisanku untuk anak cucu nanti.


Dan, Ibu Wafi sudah membantu Gre Publishing sejak masa-masa taƔruf. 2 tahun sebelum kami menikah. Sedikit banyak Ibu Wafi paham dengan pola kerja Gre Publishing.


Selain Ibu Wafi, staff Gre Publishing saling berjauhan. Satu di Bekasi. 3 di Metro Lampung. Sementara yang di Jogja selama ini hanya aku dan Ibu Wafi yang handle semua. Ya, kami masih belum punya karyawan tetap. Kantor pun masih memakai rumah yang kami tempati. Masih sebuah raihan kecil setelah selama ini Gre Publishing hanya berkantor di kamar kos-kosan saat aku masih berstatus single.


Alasan ketiga adalah karena biaya hidup di UK sangat tinggi apabila disandingkan dengan biaya hidup di Jogja. Untuk sewa 1 kamar aja habis uang Rp. 12 juta per bulan. Semakin mahal untuk kamar yang bisa ditempati 3 orang. Kebutuhan makan pun juga jauh lebih mahal daripada di Jogja. Di Jogja uang Rp. 100.000 bisa untuk beli lauk pauk buat 3-4 hari. Di sini uang Rp. 100.000 hanya cukup untuk 1-2 hari.


Semenjak 2017, LPDP menghentikan family allowance bagi semua awardee yang menempuh pendidikan S2.


Maka lengkaplah alasan untuk berpisah sementara dengan Wafi dan Ibunya setahun ke depan. Harap-harap bisa pulang pas liburan Natal dan Tahun baru untuk mengobat rindu sambil bisa mengambil beberapa data dan melakukan interview untuk dissertasiku nantinya.


Kumpul-kumpul dengan sesama anak-anak Indonesia yang kuliah di Oxford sedikit banyaknya bisa meredam rindu pada tanah air. Meskipun harus pandai-pandai mengatur waktu karena beban kuliah yang berat.
Berat karena semua tugas, bahan bacaan, dan interaksi di kelas dilakukan dalam bahasa Inggris. Sementara persiapan bahasa Inggris yang saya lakukan sebelum berangkat ke Inggris tidak maksimal. IELTS Club vakum beberapa bulan. Tidak ada seminar bahasa Inggris yang saya ikuti setahun menjelang keberangkatan. Pengalaman academic writing pun juga minim karena sudah 9 tahun meninggalkan S1.


Bukan tak ingin melakukan persiapan bahasa Inggris yang serius menjelang berangkat. Tetapi beban kerja di Gre Publishing untuk mengejar target finansial demi menutupi kebutuhan hidup dan menyicil hutang membuat tak fokus belajar bahasa Inggris. Apalagi harus berhitung duit. Milih bisa makan atau bayar kursus yang biayanya lumayan mahal.


Beradaptasi dengan sistem pendidikan S2 di UK yang serba online dan bertemu dengan para dosen yang punya segudang pengalaman di dunia penerbitan memang membuatku cukup tertatih-tatih. Aku punya pengalaman penerbitan. Tetapi itu masih penerbitan kecil dalam skala indie publisher.


Dosen-dosenku adalah sosok-sosok yang sudah punya pengalaman bekerja di penerbit-penerbit kaliber dunia. Dengan sistem yang sudah canggih dan jangkauan internasional.


Mudah-mudahan kekagokkanku di kelas beberapa hari ini bisa segera berakhir. Dan hanya fase awal dari orang baru yang kuliah di negeri asing yang belum pernah ia jejaki sebelumnya. Dengan sistem dan corak orang yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Semoga.


Sinnet Court, Oxford, Senin 30 September 2019, 20.10…

Leave a Comment