Oxford Diary (2): Sekilas tentang Academic Publishing

Related Post

Oleh: Anggun Gunawan (Mahasiswa S2 Publishing Media, Oxford Brookes University UK)

Siang ini jurusan saya kedatangan seorang tamu spesial, Bas Straub – Managing Director Newgen Publishing Europe. New Gen bisa dikatakan semacam konsultan untuk penerbitan akademis, saintis dan pendidikan. Jadi Pak Bas ini berkantor di Haarlem Belanda. Tan Malaka adalah salah seorang tokoh Indonesia yang pernah bersekolah di Haarlem pada masa kolonial dahulu.

Beliau memberikan semacam lecture singkat 1 jam sesi istirahat makan siang, 12am-1pm. Secara umum beliau memaparkan betapa asyiknya terjun dalam spesialisasi akademik publishing. Bahkan beliau bilang bekerja di bidang penerbitan sebagai “the best job in the world”. Alasannya adalah karena dalam dunia penerbitan, kita membuat konten, menyebarkannya sekaligus memberikan warna bagi kehidupan atas konten yang kita buat. Ia kemudian memberikan pembanding dengan pekerjaan di bidang pertambangan minyak. Tidak ada yang diciptakan dalam pertambangan minyak. Karena minyaknya sudah tersedia di perut bumi. Dan para engineer berpikir bagaimana minyak yang ada di perut bumi bisa diangkat ke atas dan diolah sehingga bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Ada perbedaan utama antara produk penerbitan yang bernama novel, buku biasa dan jurnal. Novel ditulis oleh satu orang dan dinikmati banyak orang. Buku bisa ditulis oleh satu orang dan beberapa orang kemudian dinikmati oleh banyak orang. Nah, jurnal ditulis oleh orang-orang tertentu (ilmuwan) berdasarkan penelitian yang serius dan dinikmati oleh audiens yang terbatas. Jurnal kedokteran hanya dibaca oleh mahasiswa, peneliti dan dosen kedokteran. Jurnal filsafat hanya dibaca oleh orang-orang yang berkecimpung di bidang filsafat.

Sejarah jurnal ilmiah sendiri sudah dimulai sejak tahun 1660-an. Dimana para ilmuwan di UK berkumpul setiap minggu di London untuk membicarakan penemuan-penemuan terbaru, dan isu-isu hangat seputar ilmu pengetahuan. Dari kopi darat para ilmuwan ini lahir sebuah jurnal pertama di dunia yang bernama “Philosophical Transanction”(1665). Konon sampai hari ini jurnal tersebut masih eksis.

Dikarenakan jurnal memuat hasil riset yang akan digunakan sebagai panduan oleh para ilmuwan se-bidang untuk mengembangkan riset-riset lanjutan, maka ada 4 proses yang harus dilewati oleh sebuah jurnal.

1. Registration: pada fase ini para ilmuwan mengirimkan paper mereka ke editorial board jurnal-jurnal tertentu. Waktu submission menjadi penting. Biasanya menit dan detik submission paper tersebut tercatat dengan baik. Karena ini akan sangat penting ketika ada riset yang sama yang dirilis oleh jurnal berbeda atau sebuah jurnal menerima sebuah paper yang mirip.

2. Validation: ini adalah proses dimana paper yang sudah dikirim oleh para peneliti atau ilmuwan dicek kualitasnya oleh para professor bidang terkait. Tak jarang kemudian proses peer review jurnal membelah dunia. Karena tidak cukup hanya mengirimkan paper ke satu professor di satu negara. Paper yang masuk akan direview oleh berbagai professor lintas negara. Yang dilakukan oleh reviewers adalah memastikan bahwa riset yang dilakukan membedah sesuatu yang baru bukan duplikasi dari riset-riset yang sudah ada dan memastikan kualitas riset yang dilakukan benar-benar teruji sehingga bisa dipakai sebagai rujukan teoritis atau praktikal oleh para ilmuwan sebidang di seluruh dunia.

3. Dissemination: inilah proses penyebaran jurnal baik lewat printed edition maupun lewat online edition.

4. Archiving: proses ini semacam pembuatan direktori lengkap dari sebuah jurnal sejak first edition sampai latest edition. Sehingga lewat direktori ini akan memudahkan bagi periset ataupun reviewers untuk melihat keaslian dan kebaruan sebuah hasil penelitian.

Secara global, 50% paper yang disubmit ke berbagai jurnal yang ada harus menerima nasib tidak bisa dipublikasikan.

Poin penting yang mesti dikalkulasi setiap tahun oleh siapapun yang mengaku dan melabeli dirinya sebagai Akademia entah itu dosen atau peneliti adalah MENGHITUNG BERAPA BANYAK PAPER YANG BERHASIL IA PUBLIKASIKAN DI JURNAL. Jika ingin detail, bisa menghitung berapa yang masuk Q1, Q2 dan Q3.

Di akhir lecture nya Pak Bas Straub menguraikan betapa enaknya bekerja di bidang academic publishing. Bertemu dengan Brainy People (orang-orang cerdas), tidak harus banyak menguras energi untuk memikirkan design dan ilustrasi (bagaikan langit dan bumi dengan children books) – 1 jurnal bisa akan tetap memiliki cover dan layout yang sama/mirip bertahun-tahun, bisa terbang ke berbagai negara karena banyak dosen atau peneliti yang membutuhkan jasa kita, lebih mengedepankan aspek rasionalitas daripada emosi karena akademik publications mostly bicara soal hal-hal yang objektif, dan tidak seperti bekerja di perusahaan majalah atau koran yang berkejaran dengan detik dan menit untuk mengejar berita – bekerja di bidang akademik publishing relatif lebih relax karena deadline kerja lebih fleksibel (biasanya jurnal terbit per tri semester, semester atau bahkan per tahun).

Forum – John Henry Brookes Building – Selasa, 1 Oktober 2019, 18.08

Posted in Uncategorized

Leave a Comment