Oxford Diary (3): Main Sebentar ke London

Oleh: Anggun Gunawan (Mahasiswa MA Publishing Media, Oxford Brookes University UK)

Tadi pas duduk di Halte bis pulang kembali ke Oxford, ada seorang kakek yg datang menghampiri saya.

Beliau bilang bus X90 baru saja berangkat. Bus berikutnya baru nyampai 30 menit lagi. Beliau ternyata juga ketinggalan bus tersebut.

Dan mulailah kami saling bercerita soal Oxford dan perjalanan hidup beliau. Di waktu beliau masih muda, masuk perguruan tinggi di UK gratis (sekitar tahun 70-an). Kakek ini dulu kuliah di Belfast University jurusan sejarah.

Setelah lulus beliau bekerja di Liverpool. Dan kemudian memutuskan menghabiskan hari tua di Oxford. Baginya Oxford adalah kota kecil yg menyenangkan. Karena populasinya yg cuma 150 ribu orang. Kebanyakan adalah para pelajar, mahasiswa dan dosen. Meskipun biaya hidup di Oxford saat ini nomor 2 paling mahal di UK setelah London.

Saya jadi teringat dengan Jogja. Yang tak hanya disesaki oleh para mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia, tetapi sejak 10 tahun terakhir para pensiunan BUMN dan perusahaan swasta besar memilih untuk menghabiskan hari tua di Jogja.

Apakah para pensiunan lebih cocok dengan para mahasiswa yang merupakan kaum terpelajar namun masih perlu panduan dalam menghadapi kehidupan??? Entahlah…

Di sebelah kami ada seorang pemuda dari Somalia yang ikut nimbrung dengan obrolan kami. Suasana jadi makin seru. Kebetulan anak muda ini barusan selesai S2 Hubungan International di Oxford Brookes University.

Dia bayar sendiri uang kuliahnya karena pemerintah Somalia tidak punya skema beasiswa. Mungkin karena APBN di sana sudah habis untuk memberantas kemiskinan, wahah penyakit, kekeringan dan kelaparan. Ditambah lagi dengan konflik yang tak berkesudahan.

Yang menarik dari kawan Somalia ini, dia ingin pulang balik ke negaranya. Di negara Barat hampir semua lini kehidupan sudah tertata baik. Jikalaupun bekerja di UK atau di Eropa tak terlalu banyak kontribusi perubahan yang bisa ia lakukan. Hanya sekedar bekerja untuk mendapatkan gaji.

Kalau pulang ke negaranya, banyak hal yang bisa dilakukan dan ditularkan.Kondisi kesehatan, kebutuhan pangan dan sandang, termasuk juga pendidikan masyarakat di negara-negara berkembang banyak yang masih perlu diupgrade menjadi lebih baik.

Saya kemudian jadi ingat sama ceramah Pak Anies Baswedan ketika datang ke UGM dalam statusnya sebagai Direktur sekaligus Pendiri Indonesia Mengajar. Pak Anies bilang, pergilah belajar jauh ke negara-negara maju di Amerika dan Eropa. Setelah itu pulanglah. Karena masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk membuat Indonesia juga mampu masuk dalam jajaran negara maju.

Sebenarnya sepulang dari Visa Metric Germany di London saya dah lunglai. Karena saya datang terlalu mepet. Untuk passport Indonesia butuh waktu normal 5 hari kerja untuk pengurusan Visa. Prosesnya bisa lebih lambat atau lebih cepat. Tapi tadi si Mbak nya ngak bisa ngasih jaminan kalau visanya sudah selesai di hari Rabu. Belum lagi waktu untuk pengiriman visa dari London ke Oxford yang bisa makan waktu sehari-dua hari. Kalau jemput ke London, berarti saya harus bolos 2 kali di hari Rabu. Padahal ada 2 mata kuliah penting. Marketing dan Disertasi. Sementara jam 9 di hari Kamis minggu depan sudah harus siap-siap berangkat ke Heathrow.

Sebenarnya saya sudah dapat berkas pengurusan visa dari kampus Kamis minggu kemarin. Hari Jumátnya saya isi formulir pendaftaran pengajuan visa dan booking appointment. Tapi dapat appointment tercepat adalah hari ini.

Ya, mau bagaimana lagi. Jadi pelajaran buat pengurusan visa schegen di lain waktu. Minimal 20 hari sebelum berangkat sudah bikin appointment.

Saya turun bis X90 di depan kampus Oxford Brookes University. Tiba-tiba kaki saya ingin saja bergerak ke Book Store Blackwell’s yang ada di kampus. Langsung saya borong 3 buku seputar penerbitan.

Sesampai di rumah, saya langsung buka laptop dan buka website Adobe. Tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar untuk berlangganan 20 program adobe untuk design grafis dan website. Di semester ini saya dapat kelas wajib Design dan Production. Dimana assignments nya dari awal sampai akhir adalah bikin cover buku dan bikin layout buku. Untungnya Adobe punya diskon besar buat Students. Jadi biaya berlangganannya ngak terlalu mahal…

Leave a Comment