Oxford Diary (4): Akademis dan Bisnis

Oleh: Anggun Gunawan (Mahasiswa MA Publishing Media Oxford Brookes University UK)

Kembali sekolah adalah momen untuk merenungkan tentang jalan hidup. Saya memulai petualangan akademik baru setelah 9,5 tahun pasca wisuda S1. Dengan keilmuan yang sangat jauh linearitasnya. Dari Filsafat ke Publishing Studies. Yang satu tinggi mengawang sampai ke atas langit – hingga mempertanyakan eksistensi Tuhan. Yang satunya lagi sangat pragmatis dan praktikal sampai belajar soal pemilihan font yang tepat untuk cover buku dan layout buku.

Yang saya lakukan selama 9,5 tahun terakhir adalah petualangan mencari jodoh, petualangan belajar bahasa Inggris dari nilai TOEFL 375 jadi IELTS 6.5, petualangan mencari pekerjaan yang pas – dari memulai membangun Gre Publishing, jadi pegawai kontrak UGM, dan kembali lagi mengurusi Gre Publishing.

Praktis selepas wisuda S1 jejak tulisan akademik saya nihil. Kecuali sebuah paper yang saya submit untuk sebuah konferensi internasional di Universitas Andalas dengan judul “The Rise of Minangkabau’s Publishers” yang dihelat persis 2 hari menjelang hari pernikahan saya.

Kalau essay-essay ringan pengisi surat kabar dan blog masih lumayan saya koleksi selama 9 tahun ini. Mulai dari Republika, Kompas, dan Surat Kabar yang berbasis di Sumatera Barat. Termasuk juga penulis lepas di berbagai macam Grup WA… 🙂

Publishing Studies adalah ilmu yang baru di Indonesia. Setahu saya dulu ada di Universitas Padjajaran Bandung. Tapi cuma setara D3. Sejak 2007 yang lalu ada Politeknik khusus Penerbitan yang didirikan oleh Presiden SBY yang bernama Polimedia Kreatif yang berlokasi persis di samping Kampus UI Depok. Politeknik ini berasal dari Perusahaan Negara Grafika. Oleh Pak SBY, PN Grafika kemudian dikembangkan sebagai pusat pembelajaran seputar percetakan dan penerbitan sekaligus sebagai konservasi dari mesin cetak tua yang dimiliki oleh perusahaan yang di masa Orde Baru menjadi andalan pemerintah untuk soal cetak-mencetak.

Sampai hari ini saya belum menemukan orang Indonesia yang mengambil kuliah Publishing Studies sampai level S2-S3.

Dalam konteks global pun, Publishing Studies sedang berusaha menempatkan dirinya sebagai ilmu yang kokoh dengan epistomologi dan metodologi yang khas. Karena keilmuan ini menggabungkan banyak aspek – Sastra, Linguistik dan penerjemahan; Teknik Grafika, IT & Kimia; Marketing, Shipping dan Perdagangan, Design dan Arts.

Untuk level sarjana dan pascasarjana, jurusan Publishing ini bisa kita temukan di Malaysia, UK, Amerika dan Australia.

Langkah ke depan yang ingin saya lakukan adalah memadukan Bisnis dengan Akademis. Pak Haidar Bagir adalah sosok yang saya lihat mampu memadukan 2 aspek ini. Haidar Bagir adalah Pendiri sekaligus CEO Mizan, penerbit besar nomor 2 di Indonesia setelah Kompas Gramedia.

Pak Haidar adalah sosok yang sangat menyintai ilmu dan dunia akademik. Hal ini bisa terlihat dari buku-buku serius yang diproduksi oleh Mizan baik yang asli ataupun dialih-bahasakan dari terjemahan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Dari segi background pendidikan pun Pak Haidar juga mentereng. S1 Teknik Industri di ITB, S2 Islamic Studies di Harvad University dan S3 Filsafat di UI. Tetapi seiring kesibukan perjalanan studi akademiknya, Mizan terus saja membesar dan membesar dengan berbagai inovasi.

Pak Haidar terus saja produktif menulis buku, artikel, menghadiri berbagai konferensi ilmiah bertemakan Islam di berbagai negara. Dan Mizan juga semakin produktif dengan berbagai imprint yang mampu meraih segmen pasar yang unik. Sebutlah Bentang Pustaka, Qanita, Kaifa, Mizania, Noura, Pelangi, dan lain-lain. Selain itu Mizan juga punya Mizan Production yang khusus menggarap alih media dari Buku menuju Film.

Dan di titik ini, saya ingin merenung. Soal jejak ilmiah saya dan pencapaian Gre Publishing.

Pagi Mendung di Hari Jumát (11 Oktober 2019) @ Sinnet Court, Oxford

Leave a Comment