S2 di UK Cuma Setahun, Tapi Kok Mahal?

Oleh: Anggun Gunawan (Mahasiswa MA Publishing Media Oxford Brookes University, UK)

Kalau dibandingkan dengan program S2 di kampus lain di UK, Oxford Brookes termasuk yang murah. Di saat biaya kuliah di kampus-kampus lain sudah di atas 17.000 pounds/tahun (apalagi kalau dibandingkan dengan program MBA di Oxford Uni yang sudah mencapai angka 50.000 pound/tahun), Oxford Brookes masih men-charge 14.000 pounds/tahun kepada mahasiswanya.

Tapi kalau dibandingkan dengan kuliah S2 di Indonesia, tentu saja angka 14.000 pounds ini masih tinggi. Setara dengan 260-270 jutaan rupiah. Sementara kalau kuliah S2 di Indonesia paling cuma bayar sekitar 30-50 juta rupiah sampai lulus (2 tahun). Atau ada beberapa yang sampai 100 juta untuk program MM selama 1,5 tahun.

Nah, pertanyaan pentingnya adalah apakah angka 260 juta rupiah untuk kuliah Master 1 tahun itu sesuai dengan ilmu yang didapatkan oleh mahasiswa?

Karena kalau dipikir-pikir kuliah master 1 tahun itu seperti dikejar-kejar waktu. Satu semester cuma 12 kali pertemuan atau cuma 3 bulan. 6 bulan kuliah, 5 bulan fokus menyelesaikan final project (disertasi atau major project) dan 2 bulan liburan.

Yang mahal dari perkuliahan di UK berdasarkan pengalaman saya sampai separoh semester 2 ini adalah memang soal kualitas dosen yang mengajar.

Di jurusan Publishing Oxford Brookes misalnya, dosen-dosen yang mengajar adalah para experts yang memang sudah dikenal di industri penerbitan buku UK dan internasional. Beberapa dosen saya adalah lulusan Cambridge dan Oxford University. Beberapa dari mereka sebelumnya adalah petinggi-petinggi di penerbit-penerbit besar seperti OUP, Mcmillan, Wiley, Pearson dan lain-lain.

Nah, yang paling saya suka dari beberapa kali perkuliahan adalah Dosen Tamu dari praktisi aktif penerbitan. Sehingga kami mendapatkan info terbaru dari sumber utama tentang apa yang terjadi di seputaran industri buku UK dan dunia. Yang apa mereka sampaikan tidak akan kita temui di textbook publishing sendiri.

Kadang dosen-dosen pun mengundang mahasiswa S3 Publishing atau lulusan PhD Publishing di Brookes untuk berbagi cerita soal pengalaman mereka meneliti isu-isu seputaran penerbitan.

Di kelas Sejarah Penerbitan tadi pagi misalnya, kami kedatangan tamu lulusan S3 Publishing Brookes yang menulis disertasi tentang analisis terhadap “Problem Page” atau “Rubrik Tanya Jawab” di Girls Magazines di UK dari tahun 1960-1990an.

Penelitian yang menarik. Karena selama ini Rubrik Tanya Jawab di Majalah ataupun Koran tidak terlalu banyak dieksplore oleh peneliti.

Dari penelitian “Problem Page” itu kemudian diketahui pada periode apa anak-anak muda UK mulai terbuka membicarakan soal LGBT, persoalan-persoalan keluarga apa yang mereka hadapi, dan problem-problem psikologis apa saja yang mereka temui.

Saya pikir majalah-majalah dan koran-koran di Indonesia dari zaman kolonial sampai era milenial sekarang juga membuka rubrik tanya jawab. Entah Tanya Jawab agama, konsultasi psikologi dan rumah tangga, serta Rubrik Seksiologi.

Kembali kepada cerita kenapa kuliah di UK mahal, ya karena mereka menawarkan level kualitas tertentu. Dan kalau misalnya, dosen-dosen tamu itu diundang dari UK ke Indonesia, bisa jadi biaya tiket dan akomodasinya juga akan sampai ratusan juta.

Selain itu, terkhusus jurusan penerbitan, tersedianya kesempatan untuk hadir di pameran buku besar dunia seperti Frankfurt Book Fair, London Book Fair, Bologna Book Fair dan Beijing Book Fair (keberangkatkannya diorganisir oleh kampus, bahkan di London Book Fair ada kesempatan untuk jadi volunteer) adalah sesuatu pengalaman yang bernilai besar baik dalam memahami bagaimana industri buku bekerja sekaligus link dengan aktor-aktor penting di penerbitan dunia. Walaupun tahun ini tersebab mewabahnya Corona Virus, London Book Fair, Bologna Book Fair dan Beijing Book Fair batal dihelat.

Saking memikirkan nasib dan masa depan karir mahasiswanya, setiap minggu pasti ada saja tawaran untuk internship di penerbit-penerbit ternama. Bahkan ada kesempatan magang di PBB. Di akhir bulan Maret ini, pengelola jurusan sudah mengagendakan pertemuan mahasiswa S2 dengan HRD dari penerbit-penerbit besar seperti OUP, Wiley, McMillan, Elsevier dan lain-lain.

Jadi uang kuliah 260 juta rupiah itu boleh dikatakan sepadan dengan fasilitas, kualitas dan pengalaman yang didapatkan.

Intinya adalah cara efektif untuk menarik minat orang untuk kuliah di suatu negara/universitas tertentu adalah soal kualitas dosen dan pengajaran yang ditawarkan. Meskipun mahal, orang akan tetap berbondong-bondong datang. Demi meraih ilmu yang lebih advanced.

Leave a Comment